Postingan

Makna Ketegasan

Ketegasanmu memang memberi arti lebih bagi kami, anak-anakmu. Tapi di balik itu semua aku pernah melihat tangismu. Aku lebih baik melihat ketegasanmu, walau terkadang hatiku sakit. Tapi ternyata hatiku lebih sakit, ketika melihat bapak meneteskan air mata. Aku tahu, tidak akan ada yang sempurna dalam menjalankan setiap perannya. Kita semua hanya sedang mencoba memainkan peran dengan baik semampu kita. Semakin dewasa aku sadar, bahwa ketegasan bapak itu bermakna. Itu bentuk kasih sayang dan kekhawatiran bapak kepada kami. Perjalanan ini menyadarkanku bahwa bapak sosok yang aku idolakan. Banyak hal dari dirimu yang aku kagumi. Pengorbanan yang engkau berikan bagi kami sungguh tak terhitung. Wajah dan lenganmu legam tersengat matahari demi memenuhi kehidupan kami. Bahkan kau tak lagi merasakan darah yang mengucur di kakimu, hanya untuk melanjutkan pekerjaan  demi meneruskan hidup ini. Ketika ragamu tak baik-baik sajapun, engkau tetap melakukan suatu hal demi kami. Maafkan kami yang ma...

Anak Investasi Orang Tua?

  Tema ini sedang cukup hangat diperbincangkan di dunia maya (re:   twitter ).  Entahlah, saya disini hanya akan sekedar berbagi opini saya mengenai hal tersebut. Bagiku anak memanglah investasi terbesar bagi kedua orang tuanya. Mengapa? Tahu hadits tentang 3 amalan yang tidak akan terputus walau kita telah wafat? Nah, menurutku poin utamanya adalah hal tersebut. Begini bunyi haditsnya: “ Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh”.  (H.R Muslim) Perlu di garis bawahi bahwa do’a anak yang sholih/ah merupakan salah satu dari tiga amalan yang    terus mengalir sebagai pahala walaupun telah meninggal dunia. Maka sudah sepatutnya bahwa orang tua perlu    mendidik dan membimbing anaknya sebisa mungkin untuk menjadikan mereka sebagai anak yang sholih/ah dan berbakti pada kedua orang tuanya. Karena hanya anak yang sholih/ah lah yang dapat men...

Tertatih Menuju Harap

 Tiada kata indah yang dapat menggambarkannya Peluhnya yang tak dapat terganti Biayanya tak dapat terbayar Untaian doanya tak terhalang, tembus hingga ke langit Pengorbanannya tak terbendung Walau raga jarang bertegur Namun dekapan di tengah jarak tetaplah lembut Meski aral melintang, mereka tetap teguh Banyak hal yang diperjuangkannya Tuk membesarkan buah hatinya agar menjadi manusia bermanfaat di masa depan Lihainya tanganmu merawat anak-anak kecil itu Begitu dalamnya samudera kesabaranmu Meski anak-anakmu masih membangkang Meski anak-anakmu masih tertatih Meski anak-anakmu selalu merengek dan memaksa Namun, tetap kau tak pernah membenci Kini kusadar, semua hal ini tak terjadi secara kebetulan Semua terjadi karena ada titipan pelajaran dalam setiap perjalanan Benar, katamu bahwa dunia terlampau keras Kita hanyalah ikan kecil yang sedang berada di lautan lepas Kau mengajari kami berenang Walau kami masih terus tertatih dan terkadang banyak istirahat Kau tetap sabar mendidik Memang...

Tidak Sekadar Tuntutan, Tapi juga Panutan

 Sebenarnya ini bukanlah akhir, justru ini adalah langkah awal dari dimulainya perjuangan. Kamu tahu, aku kagum dengan salah satu sosok pemimpin. Beliau bersahaja, sederhana, sigap, luwes, lugas, humble, ah masyaAllah deh. Jarang banget ada pimpinan yang begitu. Beliau begitu menghargai setiap peran dari masing-masing individu. Beliau suka bercanda, tapi candaannya tidak menyakiti hati siapapun, hebat ya. Terkadang kita hanya bisa bercanda dengan membully orang lain karena suatu hal. Picik juga ya kalo dipikir-pikir. Memang sih sekadar candaan, tapi bisa jadi candaan itu membawa luka bagi objek candaannya. Astaghfirullah dasar aku juga masih suka begitu heuu :(  Back to topic,  Beliau memang sudah berumur, tapi semangatnya muda, membara, membawa banyak pergerakan dan prestasi, bukan hanya sekadar omong kosong, bukan hanya sekadar memerintah. Tapi beliau turut serta dalam setiap halnya. Respect deh 🫡. Setiap kata yang beliau tuturkan, membawa makna dan pelajaran tersendir...

Logika Matematika Itu Enggak Mutlak!

 Hari ini berkesempatan berbincang dengan seorang satpam. Setelah tanya jawab dan cerita kesana kemari, ternyata beliau usianya seumuran dengan orang tuaku. Bedanya, beliau memiliki anak 5 bersaudara. Sementara keluarga saya 6 bersaudara. Kalo dipikir di zaman sekarang kok kaya banyak amat yaa nyampe ke setengah lusin 😅. Kamu tahu? Aku terkagum dengan perjalanan hidup keluarga beliau. Bekerja sebagai satpam tapi anak-anaknya bisa membuat bangga kedua orang tuanya. MasyaAllah. Salah besar kalo masih ada yang bilang "keterbatasan itu menghambat dan menghentikan segala mimpi". Itu hanya alasan untuk mencari pembenaran bagi para pemalas heuu :( kaya aku gitu ya? 🙃 wkwkw. Sedikit berbagi, semoga menjadi washilah bagi kita untuk semakin kuat dalam berusaha, dan saling menghargai sesama. Ternyata Bapak itu punya anak yang saat ini sedang mengenyam pendidikan tinggi S2 di luar negeri dengan beasiswa. Ditambah dia sambil bekerja, yang tuntutannya harus keliling Indonesia dan luar ne...

Masih Adakah Ruang?

 Saat kecil berpikir gimana ya punya uang? Buat beli a, b, c, d, e sampai z. Ketika udah dewasa, ternyata bukan uang yang kita butuh. Ah naif. Cuma omong kosong. Mau hidup pake apa?  Hmm, dunia kejam amat yaa kalo belum apa-apa udah dijudge 😅. Tenangkan dirimu dulu deh. Coba panggil anak dalam hatimu.. Tanyakan padanya, apa yang kita butuhkan saat ini? Aku yakin, kebutuhan terhadap ruang akan jauh lebih banyak. Bukan, bukan ruang secara fisik, seperti sebuah ruangan kosong, khusus untuk diri kita sendiri. Tapi, ruang untuk berkreasi, mengeksplor diri, mencoba hal baru, ruang untuk bicara, ruang untuk mendengar, ruang untuk mengemukakan pendapat  dan lainnya. Namun, aku seringkali tak percaya diri. Karena melihat orang di luar sana begitu jauh hebatnya. Mereka lugas dalam berkomunikasi, sigap dalam bertindak, cakap dalam mengambil keputusan. Hanya sering kali, mereka lupa untuk memberi kesempatan, lupa untuk mendengar. Karena, semua orang terlalu ingin menjadi peran utama...