Masih Adakah Ruang?

 Saat kecil berpikir gimana ya punya uang?

Buat beli a, b, c, d, e sampai z.

Ketika udah dewasa, ternyata bukan uang yang kita butuh. Ah naif. Cuma omong kosong. Mau hidup pake apa? 

Hmm, dunia kejam amat yaa kalo belum apa-apa udah dijudge πŸ˜….

Tenangkan dirimu dulu deh.

Coba panggil anak dalam hatimu..

Tanyakan padanya, apa yang kita butuhkan saat ini?

Aku yakin, kebutuhan terhadap ruang akan jauh lebih banyak.

Bukan, bukan ruang secara fisik, seperti sebuah ruangan kosong, khusus untuk diri kita sendiri.

Tapi, ruang untuk berkreasi, mengeksplor diri, mencoba hal baru, ruang untuk bicara, ruang untuk mendengar, ruang untuk mengemukakan pendapat  dan lainnya.

Namun, aku seringkali tak percaya diri.

Karena melihat orang di luar sana begitu jauh hebatnya.

Mereka lugas dalam berkomunikasi, sigap dalam bertindak, cakap dalam mengambil keputusan.

Hanya sering kali, mereka lupa untuk memberi kesempatan, lupa untuk mendengar.

Karena, semua orang terlalu ingin menjadi peran utama dalam setiap kehidupan.

Padahal sampai kapanpun, kita semua hanya pemeran pembantu dalam kehidupan orang lain. 

Kita hanya menjadi tokoh utama, yaa hanya dalam kehidupan kita sendiri saja toh?

Makanya seringkali orang-orang diluar sana menganggap orang selain dirinya itu "gagap". Jika terus demikian, bukankah itu membunuh mental?  Bukankah itu akan membunuh karakter? Menumpulkan kemampuan orang lain? Padahal dalam setiap diri manusia selalu ada potensi dan kelebihan yang unik dan berbeda dari setiap manusia lainnya.

Poinnya, ternyata yang kita kira baik, belum tentu baik juga ya ahaha.

Dunia terlampau keras bos :")

Benar kata Bapak, "Jadilah petinju yang hebat. Bapak didik di rumah dengan keras, tegas, bahkan sampai kalian mungkin merasa benci ke Bapak. Sejujurnya Bapak takut, ketika kalian keluar dari ring tinju ini, kalian akan dibuat babak belur oleh dunia".

Sampai beliau mengucapkan, "Lebih baik kalian dimarahin terus sama Bapak, daripada Bapak ngeliat kalian dimarahin dan dimaki oleh orang lain. Lebih sakit hati Bapak. Karena Bapak ngelakuin semua itu bukan karena benci tapi karena cinta yang sangat besar. Tetapi orang lain kalo ngelakuin hal itu boleh jadi karena mereka benci, bahkan iri dan ingin menjatuhkan kalian".

Begitulah dunia, terlalu banyak topeng yang setiap manusia pasang. 

Orang yang kita kira baik, ternyata musuh dalam selimut.

Orang yang kita kira jahat, ternyata membela kita sampai habis.

Semakin dewasa semakin abu-abu ya dalam memandang kehidupan ini.

Apa karena dosa kita yang sudah menggunung, hingga sinyal kebaikan itu hilang dalam hati kita? Akhirnya semua hal itu membuat segala sesuatu yang ada di hadapan kita menjadi bias untuk dinilai.

Semenakutkan itu ya, menjadi orang dewasa :")

Dalam circle tertawa lepas, membicarakan banyak hal. Namun, saat kembali, mengapa energinya justru terkuras habis-habisan?

Ternyata bermain peran dalam dunia ini gak ada yang mudah ya. Semua ada ujiannya tersendiri dalam memainkan perannya di muka bumi ini.

Maka dari itu, untuk menghadapi dunia ini, aku hanya minta untuk dikuatkan dalam segala hal. Karena aku hanya sang pengamat, aku tidak seperti kalian yang begitu terlampau hebat.

Aku hanya makhluk kecil, yang hanya ingin mencari rezeki dan menjemput ridho-Nya melalui takdir yang telah Ia goreskan.

Maka, hanya satu pertanyaanku saat ini "Masih adakah ruang bagiku untuk bertumbuh?"


Salam dariku,


Sang Pengamat

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Logika Matematika Itu Enggak Mutlak!

Tidak Sekadar Tuntutan, Tapi juga Panutan